KEUMAMAH, dari medan perang ke meja makan

Pekerja menjemur ikan untuk dijadikan keumamah (ikan tongkol yang diawetkan dengan cara direbus lalu dijemur hingga kering) di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Senin (sumber photo :disbudpar)

Pekerja menjemur ikan untuk dijadikan keumamah (ikan tongkol yang diawetkan dengan cara direbus lalu dijemur hingga kering) di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Senin (sumber photo :disbudpar)

Keumamah makanan khas Aceh memiliki citarasa tinggi ketika sudah diolah menjadi menu makanan dengan bumbu khasnya.

Namanya unik bagi orang luar, yang sering diterjemahkan sebagai ikan kayu. Asal muasalnyaberasal dari ikan tongkol yang dikeringkan. Laut yang mengitari Aceh salahsatu daerah penghasil Ikan Tongkol yang terbaik.

Pekerja menjemur ikan untuk dijadikan keumamah (ikan tongkol yang diawetkan dengan cara direbus lalu dijemur hingga kering) di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Senin (sumber : disbudpar)

Pekerja menjemur ikan untuk dijadikan keumamah (ikan tongkol yang diawetkan dengan cara direbus lalu dijemur hingga kering) di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Senin (sumber : disbudpar)

Proses pembuatannya tergolong sederhana,ikan tongkol yang dibelah dua atau empat bagian terlebih dahulu direbus dalam air mendidih, kemudian diletakkan di atas bambu atau wadah jemuran lainnya pada ketinggian tertentu dan dan selanjutnya dijemur dibawah sinar matahari.Ikan tongkol yang dikeringkan itu beberapa hari kemudian akan mengeras seperti kayu.Biasanya sesudah kering, ikan diiris dan dilumuri tepung tapioka biar lebih awet tanpa menggunakan pengawet kimia.Keumamah tetap bisa bertahan hingga berbulan-bulan.

Ada humor yang cukup menghibur, katanya orang Aceh keras karena makanannya keras, “Ikan kayu, daun paku” (ikan keumamah dan daun pakis).

Bagaimana sejarah ikan Keumamah yang menggoda rasa ini?

Itulah Keumamah, nama makanan yang asal muasal berasal dari peninggalan masa perang. Sebelum terhidang dalam meja makan dimasa damai adalah makanan di medan perang. Sejarah kapan pertama sekali dikenal belum ada kesepakatan resmi, tapi menu khas ini diyakini sudah ada sejak abad 16 ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa. Raja “negeri bawah angin”yang terkenal ini dikenal suka berperang, baik ke daratan sumatera maupun ke negeri seberang. Kapal-kapal perang Aceh yang berbulan-bulan di Selat Malaka dengan ribuan prajuritnya tentu membutuhkan dukungan logistik yang teratur dan terus menerus, jadilah Keumamah sebagai menu utama karena mampu bertahan lama dan dapat dimasak dengan cara sederhana.

Dimasak dengan bumbu rempah-rempah sebagaimana menu makanan Aceh lainnya yang banyak mengandung rempah-rempah, menjadikan sajian ikan kayu ini rasanya sangat nikmat. Selain rasanya yang nikmat, Keumamah juga memiliki aroma kuah tumis yang menggugah selera.Secara umum, keumamah dimasak dengan tumeh (tumis) dan peuleumak.

Di Banda Aceh, menu makanan Keumamah tersedia dibanyak restaurant dan warung makan dengan berbeda-beda cara masak yang tentu saja menghadirkan citarasa yang beragam.

Keumamah sekarang juga menjadi oleh-oleh Aceh yang sudah tersedia dalam bentuk kemasan praktis di toko-toko souvenir.

Itulah Keumamah, dari medan perang ke meja makan. (*)

 

Tags: