Dari Puing Reruntuhan Kerajaan Hindu, Peletakkan Batu Pertama Kerajaan Aceh Darussalam, Kegemilangan masa Kesultanan, Pembumihangusan Belanda, Terjangan ombak Tsunami sampai Banda Aceh Baru Menuju Kegemilangan.

Satu hal yang belum berubah tentang Banda Aceh sejak tahun 1205 sampai dengan sekarang, yaitu Banda Aceh tetap sebagai ibukota Aceh. Dengan letak yang sangat strategis yang disebut Koran Acehkita “Pinto Donya-Pinto Nusantara”, Banda Aceh menjadi singgahan banyak penjelajah sekaligus penjajah. Sejarah panjang telah membuat kota ini mengalami masa-masa kejayaan, masa-masa sulit dan kini masa-masa gemilang.
Perjalanan waktu membuktikan wajah kota yang terus berubah dan berganti adalah bentuk lain dari puing-puing yang runtuh dan tumbuh kembali.
Bagaimana zaman itu menghantar sejarah kota yang dibangun atas puing-puing kehancuran ini? Dan siapa tokoh-tokoh besar yang berperan dalam setiap zamannya?

Periode “Batu Pertama” (1205-1903).
Periode pertama kemunculan Aceh dimulai ketika Sultan Alaiddin Johan Syah meletakkan batu pertama pembangunan istana kerajaan Aceh di Gampong Pande pada 22 April 1205. Periode ini penting karena reruntuhan setelah peperangan besar, Banda Aceh berdiri.

Selama lebih kurang tujuh abad dalam periode ini, Banda Aceh memaikan peranan penting dalam jalur perdagangan internasional dan hubungan dengan bangsa-bangsa luar. Banda Aceh menjadi ibukota kerajaan sejak Sultan Alaiddin Johan Syah memerintah tahun 1205 sampai sultan terakhir Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah mengakihiri kesultanan tahun 1903. Disebutkan tahun akhir 1903 biarpun secara de facto Raja tidak lagi berkuasa dan berada di istana Banda Aceh, karena pada tahun 1874 Belanda berhasil menduduki Kota Banda Aceh.

Periode “Kegemilangan” Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
Kota Banda Aceh yang disebut-sebut para ahli sejarah “Bandar Aceh Darussalam” makin bersinar sebagai Ibukota Aceh ketika negeri yang disebut “Negeri Bawah Angin” ini dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Memiliki wilayah separuh Pulau Sumatera dan Negeri Malaya (Malaysia sekarang), Sultan Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai kota pelabuhan paling sibuk dengan berbagai aktifitas perdagangan, sosial politik , budaya dan pusat pendidikan tinggi bidang agama dan umum pada masanya. Kejayaan kota tempat “Matahari” tenggelam ini banyak ditulis sejarawan dunia, diantaranya sebagaimana ditulis seorang Profesor Perancis Lombard dalam Buku Kerajaan Aceh Darussalam.

Periode “Pendudukan” Belanda (1874-1942)
Belanda berhasil memasuki dan menduduki Banda Aceh pada tahun 1874 dengan panglimanya Jendral J.Van Swieten. Selama 68 tahun Banda Aceh menjadi ibukota dari pemerintah Hindia Belanda Aceh. Dalam masa-masa penuh darah dan duka karena perjuangan heroik yang dilakukan pejuang Aceh, Banda Aceh diubah namanya menjadi Kutaraja yang pembangunannya dilakukan diatas puing-puing bekas istana Daruddunia.

Periode “Perubahan Nama” (1963)
Ketika kemerdekaan, Kutaraja masih sebagai ibukota Aceh. Malah yang uniknya Banda Aceh (Kutaraja) pernah menjadi ibukota Aceh, Langkat dan Tanah Karo ketika Gubernur militernya dipegang Tgk Muhammad Daud Beureueh.

Ketika masa Gubernur Aceh dijabat oleh Ali Hasjmy, nama Kutaraja kembali menjadi Banda Aceh tepatnya pada 9 Mei 1963. Periode ini dianggap penting biarpun sempat menjadi silang pendapat kebenaran nama Banda Aceh atau Kutaraja. Perubahan nama ini atas dasar Surat Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, Nomor: Des.52/I/43-43 tanggal 9 Mei 1963.

Periode Gempa dan Tsunami (2004)
Wali Kota Banda Aceh almarhum Mawardy Nurdin membangun Banda Aceh dari puing-puing setelah dihantan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Alm. Mawardy Nurdin menjadi Pj Walikota sejak tahun 2005, dan pada pemilihan Pilkada tahun 2007 terpilih menjadi Walikota Banda Aceh periode 2007-2012 bersama Wakil Walikota Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal. Kepemimpinannya dilanjutkan pada Periode kedua dari tahun 2012 – 2017, namun Allah berkehendak lain, Mawardi Nurdin meninggal dunia pada 8 Februari 2014 sebelum selesai mengakhiri tugasnya. Mawardy Nurdin dianggap sebagai sosok yang berperan penting dalam pembangunan kembali Kota Banda Aceh diatas puing-puing tsunami. Setelah kepergian Mawardy Nurdin, kepemimpinan Kota Banda Aceh dilanjutkan oleh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal sebagai Walikota sampai tahun 2017.

Periode Banda Aceh Gemilang
Mengusung Visi Banda Aceh Gemilang Dalam Bingkai Syariah, HAminullah Usman SE Ak MM dan Drs H Zainal Arifin menjadi Walikota dan Wakil Walikota periode 2017 – 2022 yang dilantik oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Jum’at (7/7/2017) di ruang paripurna Gedung DPRK Banda Aceh.
“Saya pemimpin untuk semua rakyat warga kota Banda Aceh,” ujar Aminullah pada pidato pertamanya sebagai Pemimpin baru Banda Aceh. Saat menyampaikan sambutan resminya yang mendapat tepuk tangan gemuruh dari tamu dan warga kota, Aminullah mengatakan dirinya ingin menjadi pemimpin yang pro rakyat, yang akan bekerja untuk kepentingan rakyat Kota Banda Aceh.
[Hasnanda Putra]