Ilustrasi Cheng Ho
(google)

Banda Aceh- Dalam sebuah pelayaran keempat di tahun 1410 Laksamana Agung Cheng Ho tiba di Aceh.  Cheng Ho dalam setiap pelayaran yang disinggahinya, dia menunjukkan kepedulian tinggi dengan penduduk lokal. Dalam kapal besarnya, Cheng Ho memiliki tim medis dan tim pertanian yang diturunkan pada daerah-daerah yang disinggahinya, termasuk ketika singgah di Aceh.

Ketika singgah pertama sekali di Aceh, Cheng Ho mengerahkan 317 kapal, termasuk 60 kapal induk, dan lebih dari 27.000 awak kapal. Kapal-kapal seperti ditulis Hum Sin Hoon, ukuran kapal-kapal besarnya sekitar 145 m x 60 m.  Armada ini memang sangat kolosal di abad ke-15 dan mencerminkan kemampuan pembuatan kapal yang lebih maju di China.

Di Aceh, secara khusus karena kejujuran penduduk Kerajaan Samudera, Cheng Ho membuka basis dengan mendirikan guanchang (gudang) besar. Samudera menurut armada Cheng Ho dipandang sebagai pelabuhan kunci bagi belahan utara Selat Malaka. Disebutkan dalam sejarah, Samudera kemudian digunakan oleh Cheng Ho sebagai tempat “pemberhentian” di jalur ke selatan India. Jalur ini juga dianggap sebagai pelabuhan terkahir sebelum kapal-kapal memulai pelayaran panjang melintasi Samudera Hindia ke Ceylon dan bagian selatan India. Relasi erat antara Samudera dengan Dinasti Ming yang bertahun-tahun kemudian terjalin melalui kunjungan berbalas antara dua negeri. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.

Bila kita menelisik sejarah, ketika Cheng Ho singgah di Samudera Pasai, yang berkuasa saat itu adalah Ratu Nahrasiyah memerintah tahun 1405-1428 M. Sang Ratu adalah anak dari Zainal Abidin Malikudzahir atau cucu dari Sultan Malikussaleh. Berkuasa dengan arif selama 20 tahun lebih.

Itulah Cheng Ho sang Laksamana yang terukir dalam tinta emas penjelajah  dunia paling berpengaruh sepanjang masa. Berlayar dari tahun 1405-1433, Cheng Ho memimpin armada laut terbesar didunia dalam tujuh pelayaran besar dan bersejarah. Dalam Buku Cheng Ho,  Profesor Hum Sin Hoon menyebutkan dalam hal waktu dan segi jumlah kekuatan pelayaran, Cheng Ho tiada tandingnya. Pelayaran perdana Cheng Ho (tahun 1405) dilakukan 87 tahun lebih dulu dibandingkan dengan kedatangan Christopher Columbus (tahun 1492), juga lebih dahulu dibandingkan Vasca da Gama melintasi Afrika Selatan (1497) dan Ferdinan Magellan yang berlayar keliling dunia 100 tahun (1519) setelah pelayaran ke-6 Cheng Ho.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, ketika Kerajaan Pasai ditaklukan oleh Kerajaan Aceh Darussalam dibawah komando Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 M, lonceng itu diboyong ke Istana Darud Dunia Banda Aceh, pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng ini  dipasang di buritan kapal induk Cakradonya.

 

Lonceng besar ini kemudian digantung dalam komplek Istana Darud Dunia. Lonceng ini sering dibunyikan ketika Sultan mengumpulkan penghuni istana. Dizaman Belanda pada tahun 1915 lonceng tersebut kemudian dipindah ke Museum Aceh, hingga sekarang.

Perjalanan agung ini dapat menjadi peluang bagi Pemerintah Aceh menjalin hubungan pariwisata, budaya, pendidikan, teknologi dan perdagangan dengan Cina, apalagi saat ini Cina menjadi negara adidaya baru ekonomi di dunia. Sebuah peluang untuk masa depan. Lonceng sebagai bukti, ada “jejak” warisan Cheng Ho di Banda Aceh.

Penulis dan foto : Hasnanda Putra