Kisah Imajiner Gunongan ‘Ketika Orang Kaya Menghalangi Sultan’

Situs ini lumayan sepi dikunjungi entah kenapa, padahal bangunan yang disebut Gunongan ini menyimpan kisah cinta Raja dan Ratu terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh.

Konon, Gunongan awalnya direncanakan dibangun 10 kali lipat dari ukuran sekarang yang hanya punya ketinggian 9,5 meter ini.

Kasak kusuk dan tolak tarik, membuat “pengesahan APBA” macet. Orang kaya bangsawan yang mulia menghalangi segala upaya program kerja Sultan. Mereka sibuk memperjuangan aspirasi sendiri dan berdalih apa yang Sultan buat terlalu menghambur-hamburkan uang. Padahal justru orang kaya bangsawan itu yang menguras uang kerajaan.

Jadilah rencana membangun Gunongan yang lebih besar dan tinggi tak kesampaian. Sultan tidak diam, dia terus saja membangun biarpun sedikit dana yang disetujui.

Gunongan yang mungil dan indah ini akhirnya dibangun dengan APBA sekitar Tahun Anggaran 1619 M diabad ke-17.

Orang kaya bangsawan masih belum puas, berbagai siasat dilakukan untuk menghalangi niat Sultan membangun Aceh. Sampai suatu hari orang-orang kaya bangsawan tiba-tiba menghilang. Seorang penjelajah dunia Tuan Agustin ikut terkejut, bertamulah dia ke Pendopo Darud Dunia menemui Sultan.

Tuan Agustin : Ada kabar buruk Tuanku, para bangsawan orang kaya itu menghilang. Biasanya mereka ngumpul minum di Lampineung dan Ulee Kareng. Jangan-jangan mereka ke luar negeri untuk studi banding sambil mencari kekuatan menyerang Tuanku.

Sultan tidak menjawab, dia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut. Wajahnya dibuat aneh dengan mulutnya terbuka besar, dalam wajah lucu itu dia bertanya pada pelayan dan penjelajah ini:
“Soe hie lon, asai bek kapeugah hie Yahudi, awak kah bacut-bacut beda pendapat ka kheun Yahudi keu gob. Sang-sang droe ka ahli syurga,” katanya dengan keras tapi diakhiri dengan tawa besar.

Agustin ikut tertawa, tapi dia kembali mempertanyakan kemana raibnya semua orang kaya bangsawan ini. Sultan tidak langsung menjawab, dia bergegas meninggalkan Agustin sambil berkata “Pulanglah ke hotelmu, nanti di simpang keraton dekat Mesjid Raya ada tulisan besar yang digantung,”

Agustin makin penasaran, secepat kilat dia meninggalkan Pendopo. Segera saja dia ke simpang yang disebutkan Sultan, beberapa saat mencari nampaklah kalimat yang bergantung di papan info milik hulubalang penerangan kerajaan.

” Rakyat mengucapkan Alhamdulillah, Krue Seumangat Sultan atas telah dikuburnya hidup-hidup para orang kaya bangsawan penghalang pembangunan”

Agustin tersenyum dan kembali ke hotel. Keesokan hari ketika ngopi dengan Sultan di Tepi Krueng Aceh, Agustin berkata:
“Tuanku hebat juga berdemokrasi, tidak perlu debat tak habis waktu hemat biaya lagi,”

Sultan tersenyum.

Sesaat kemudian Agustin melanjutkan kata
” Tapi jangan salah Tuanku, menduga pengganti orang kaya bangsawan kedepan akan lebih baik adalah kesalahan terbesar dalam sejarah,”
Giliran Agustin tertawa terpingkal-pingkal..?

Penulis : Hasnanda Putra

Pemantauan Ketahanan Budaya Kesbangpol