Banda Aceh- Bagi warga Kota Banda Aceh, hampir atau bahkan setiap hari kita melintas di jalan kawasan Simpang Jam, namun pernahkah pandangan kita tertuju pada satu bangunan tua yang terletak di pangkal jalan Teuku Umar yang berhadapan dengan SPBU Simpang Jam?

Dari sekian banyak objek wisata di Banda Aceh, sedikit yang mengetahui bahwa Eks gedung PSSI itu, yang dulunya juga bekas kantor berita salah satu media terbitan Aceh, merupakan objek wisata cagar budaya.

Sentral Telepon yang melegenda di Banda Aceh

Sentral Telepon dengan desain Eropa berbentuk segi delapan itu merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dijadikan Sentral Telepon Pemerintah Belanda pada waktu itu. Bangunan ini bukan sebatas memiliki arsitektur unik tapi memiliki sejarah panjang karena konon inilah Sentral Telepon pertama yang dibangun Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda (Indonesia sekarang).

Sentral Telepon dibangun di area Istana Kerajaan Aceh Darussalam saat Belanda masih menduduki wilayah Koetaraja (Banda Aceh sekarang). Belanda menjadikan ujung pulau Sumatera ini sebagai pusat pemerintah militer.

Waktu itu Belanda menyebut bangunan tersebut sebagai Kantor Telepon Koetaradja. Usai bangunan rampung, Belanda yang dulunya menggunakan telegraf untuk berkomunikasi jarak jauh, kini beralih ke telepon.

Bangunan unik bersejarah ini kerap tidak banyak diketahui warga

Alat komunikasi ini merupakan yang pertama sekali didirikan Belanda di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Kehadiran telepon ini sangat membantu Gubernur Militer Belanda dalam memberi perintah perang kepada anak buahnya yang ada di Aceh. Selain itu juga digunakan untuk mengetahui rencana penyerangan dari pejuang Aceh.

Namun kadang, Gubernur Militer Belanda kala itu juga sering kesal dengan telepon tersebut. Bahkan ia kerap mencabut kabel telepon agar tidak dapat menerima informasi. Dikutip dari buku Banda Aceh Heritage, hal itu dilakukan karena sang jenderal sewot gara-gara seringnya mendapat kabar serangan dari pejuang Tanoh Rincong terhadap pasukannya di lapangan.

Jaringan telepon menembus berbagai kota seperti Ulee Lheu, Sabang, Lamno, Meulaboh, Seulimum, Sigli, Bireun, Takengon, Lhokseumawe, Lhoksukon, Idi, Peurelak, Kuala Simpang hingga beberapa kota di Sumatera Utara seperti Medan, Tanjung Pura, Rantau Prapat, Berastagi dan Asahan.

Ketika Belanda meninggalkan Aceh, kemudian masuklah Jepang. Sentral Telepon yang sudah dibangun lama tetap digunakan pasukan Negeri Matahari Terbit untuk berkomunikasi. Pasca Indonesia merdeka pun bangunan ini sempat dijadikan kantor telepon Kodam I Iskandar Muda.

Gedung mini Sentral Telepon kini dijadikan sebagai salah satu situs sejarah dan wisata yang berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Namun sangat disayangkan, lokasi objek wisata ini sepi dikunjungi warga atau wisatawan karena pintu masuk yang sering tertutup sehingga pengunjung hanya bisa melongok dari luar untuk melihat bangunan tersebut.

Situs ini memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Oleh karena itu keberadaannya perlu dilestarikan agar generasi yang akan datang tau sejarah masa lalu dan semakin cinta tanah air.

Nah, mulai saat ini jangan hanya sekedar melintas di depan gedung ini tapi kunjungilah. Kita akan merasakan sensasi seolah berada di jaman Belanda tapi tidak di masa penjajahan. Rawat dan pelihara ingatan kita akan sejarah objek wisata cagar budaya ini. (dari berbagai sumber)

Editor dan foto : Sri Wahyuni

Sharing ke Social Media :